Inception, Menjelajah Alam Mimpi Bersama Christopher Nolan

InceptionChristopher Nolan memang jenius. Itu sudah dibuktikannya lewat beberapa karyanya yang membuat penonton berdecak kagum. Setelah kita dimanjakan dengan penafsiran tokoh komik Batman, kini Nolan mengajak kita masuk dunia mimpi yang ada di benaknya lewat film berjudul Inception ini. Dan melihat hasilnya, tak percuma Nolan menyimpan ide cerita ini selama hampir sepuluh tahun. Film ini memang fenomenal.

Nolan tak hanya jenius. Ia juga seorang penghibur yang baik. Dengan ide yang kompleks, Nolan mampu menyajikan sebuah tontonan yang tetap menghibur. Action hanyalah kosmetik karena sebenarnya yang ingin disodorkan sutradara ini adalah pencarian makna mimpi itu sendiri. Dikisahkan, Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah orang yang sanggup memasuki mimpi orang lain dan memanipulasi alam bawah sadar ini agar ia bisa mengambil keuntungan.

Belajar dari Miles (Michael Caine) yang juga adalah mertuanya, Cobb lantas menjelajahi alam mimpi ini bersama Mallorie (Marion Cotillard), istrinya. Sayangnya penjelajahan alam mimpi ini berakhir tragis dan Cobb terpaksa harus berpisah dari kedua anak yang sangat ia cintai. Dalam pelarian, Cobb tak punya pilihan selain mencari nafkah dengan cara yang ia tahu: memasuki alam mimpi orang lain.

Bersama timnya, Cobb menjadi ‘pencuri’ yang paling andal. Ia tak mungkin tertangkap karena ia hanya mencuri ide yang ada dalam pikiran orang lain lewat mimpi mereka. Suatu ketika, Cobb bertemu Saito (Ken Watanabe) yang memberikan tawaran yang tak mungkin ditolak. Saito bisa membawa Cobb kembali ke Amerika untuk bertemu anak-anaknya meskipun ia berstatus buronan di negeri itu.

Yang jadi masalah, Saito ternyata tak bermaksud mengambil sesuatu dari pikiran orang lain. Ia bermaksud menanamkan ide di dalam pikiran orang tadi dan hanya Cobb yang mampu melakukannya. Misi ini bukan tanpa risiko, karena kalau terjadi kesalahan, maka ada kemungkinan Cobb dan timnya tak akan pernah kembali ke alam nyata.

Nolan memang menawarkan sebuah ide yang belum bisa diungkap oleh ilmu pengetahuan. Bagaimana mimpi itu terjadi? Bisakah kita memasuki mimpi orang lain? Mungkinkah kita bermimpi pada saat kita sendiri sedang bermimpi? Ide rumit ini disajikan Nolan dalam sebuah ramuan yang indah dan tak membuat penonton kebingungan meskipun banyak adegan kilas bali, adegan paralel, dan perpindahan dari alam mimpi ke alam nyata.

Agar mudah dicerna, Nolan membuat sebuah tutorial di awal film. Penonton diperkenalkan pada konsep mimpi di dalam mimpi lewat pelatihan yang diberikan Cobb pada Ariadne (Ellen Page) sang anggota baru. Jarang ada sebuah film dengan original story yang mampu mencapai tingkat sempurna seperti Inception ini. Nolan berhasil menutup semua celah sehingga – walaupun kita disodori sebuah cerita fiksional – namun ada dasar logika yang dibentuk Nolan sejak awal cerita. Semua kejadian dirangkai lewat logika yang sudah ditentukan ini dan hasilnya benar-benar mengagumkan.

Special effect jelas ada tapi bukan itu masalahnya. Nolan tak mau terjebak dengan penggunaan efek karena itu akan mematikan film ini sendiri. Kekuatan film ini adalah konsep dan konsep itulah yang dipegang Nolan. Sisanya bergantung pada para aktor dan aktris yang berusaha menghidupkan karakter rekaan Nolan ini. Fokus memang tetap berada pada Cobb yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan hanya karakter ini yang mendapat latar belakang paling bagus. Sisanya nyaris tak tersentuh, kecuali karakter Robert Fischer. Jr (Cillian Murphy) yang menjadi target Cobb.

Meski tak semua mendapat latar belakang yang kuat namun bukan berarti karakter-karakter ini lantas jadi flat. Ariadne dan Mallorie misalnya, mereka tetap muncul sebagai sosok yang utuh, lengkap dengan kondisi psikologis dan emosi mereka. Soal akting, bisa dibilang semua pendukung film ini tampil prima. Bahkan Michael Caine yang kebagian screen time pendek pun tetap tampil dengan baik. Tapi yang paling mengejutkan justru adalah Cillian Murphy yang malah tampil lebih menonjol dari Leonardo DiCaprio.

Jadi, sepertinya tak sia-sia anggaran sebesar US$200 juta yang dikucurkan oleh Legendary Pictures/ Syncopy Films ini karena hasilnya memang benar-benar memuaskan.

Artikel Lain:
» Machete, Mengangkat Nama Danny Trejo

» The Other Guys, Impian Menjadi Polisi Super

» Salt, Pelarian Agen CIA

» The Last Airbender, Sang Penjaga Keseimbangan Alam

» The Twilight Saga: Eclipse

What do you think?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s